Subscribe
Showing posts with label dongeng dari china. Show all posts
Showing posts with label dongeng dari china. Show all posts

Monday, February 9, 2009

Jhi Ge Phu dan Putri Naga

Di sebuah daerah di tiongkok hiduplah seorang pemuda bernama Jhi Ge Phu bersama ayahnya yang sudah renta. Mereka adalah ahli tembikar dan mereka hidup dari hasil menjual tembikar buatannya.

Suatu hari di musim salju, Jhi Ge Phu dan ayahnya menuntun keledai mereka ke kota. Keledai mereka yang sudah tua terseok-seok membawa muatan tembikar yang akan mereka jual di kota. Jalanan sangat licin karena tertutup salju. Ayah Jhi Ge Phu khawatir keledai mereka akan terpeleset dan menjatuhkan tembikar-tembikar di punggungnya.

Saat melewati Yuin Nan, mereka harus menyebrangi sebuah sungai yang sudah membeku. Di tengah sungai keledai mereka terpeleset dan jatuh, membuat semua tembikar mereka pecah berkeping-keping. Ayah Jhi Ge Phu yang hendak membatu keledainya malah terpeleset juga. Malang baginya, kepalanya terantuk batu dengan sangat keras sehingga ia pun meninggal.

Jhi Ge Phu sangat sedih. Namun apa mau dikata, semua sudah suratan takdir. Maka dia pun menguburkan jenazah ayahnya di tepi sungai dan juga menguburkan keledainya di samping kuburan ayahnya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya.

Suatu hari dia tiba di pinggir laut. Saat dia sedang merenungi nasibnya, dia dikejutkan oleh suara rebut dan tangisan seorang gadis. Dilihatnya segerombolan pemuda berkuda berlari menuju ke arahnya. Salah seorang diantaranya membawa seorang gadis yang sedang meronta-ronta dan menangis. Jhi Ge Phu merasa yakin bahwa gadis itu pasti telah dibawa paksa oleh mereka. Maka segera dia menghadang mereka. Pemuda yang membawa gadis itu sangat marah, dia mengeluarkan cambuk dan melecutkannya ke arah Jhi Ge Phu. Untungnya Jhi Ge Phu sempat menghindar. Ia mencabut pedangnya dan menebas kaki depan kuda pemuda itu sehingga mereka jatuh tersungkur. Tanpa membuang waktu Jhi Ge Phu menyerang si pemuda yang kewalahan melawannya. Akhirnya gerombolan pemuda itu pun melarikan diri.

Gadis itu sangat berterima kasih dan mengenalkan dirinya sebagai putri Naga.
“Dimana rumahmu Nona, bagaimana kau bisa dibawa oleh pemuda berandalan itu?” tanya Jhi Ge Phu.
“Rumahku ada di dasar laut. Kebetulan tadi pagi aku ingin menikmati fajar di daratan. Lalu saat aku lengah, tiba-tiba mereka datang menculikku,” katanya.
“Wahai pemuda, kau telah menolongku. Sekarang kau ikutlah denganku untuk menemui orang tuaku. Mereka akan sangat senang bertemu denganmu,” pinta putri Naga.

Jhi Ge Phu sangat penasaran sehingga dia menyetujui ajakan putri Naga. Putri tersebut menyuruhnya memejamkan mata. Sedetik kemudian saat putri Naga menyuruhnya membuka mata, Jhi Ge Phu terpesona dengan pemandangan di depannya.

Dia kini berada di sebuah istana yang sangat megah dan indah. Di hadapannya berdiri dua makhluk yang seperti manusia tapi juga seperti naga, dikelilingi para pelayan dengan bentuk seperti ikan. Kedua naga itu memperkenalkan diri sebagai orang tua gadis yang ditolongnya. Mereka sangat berterima kasih atas pertolongan Jhi Ge Phu. Mereka menjamunya dengan berbagai hidangan yang lezat. Kemudia raja membawa Jhi Ge Phu ke sebuah ruangan yang dipenuhi emas dan permata.
“Sebagai tanda terima kasihku, kau boleh membawa emas permata ini sesukamu, pilihlah!” kata raja.

Jhi Ge Phu dengan halus menolaknya, dia katakan bahwa dia tidak menginginkan imbalan. Namun karena raja terus memaksanya, akhirnya dia meminta seekor anak ayam dan sebuah tongkat. Raja sangat terkejut dengan permintaan tersebut karena kedua benda itu adalah pusaka kerajaan yang orang luar tidak mengetahuinya.
“Anak muda dari mana kau tahu benda-benda pusaka itu?” tanya raja.
“Maaf paduka, tuan putrilah yang memberitahuku,” kata Jhi Ge Phu.

Raja dan ratu segera memahami bahwa anak mereka telah jatuh hati pada pemuda itu. Maka dengan berat hati mereka merelakan pusaka tersebut ke tangan Jhi Ge Phu. Setelah itu mereka mengantar Jhi Ge Phu ke permukaan dengan selamat. Jhi Ge Phu sebenarnya ingin berpamitan dengan putri naga namun sepertinya putri naga tidak mau menampakan diri.

Jhi Ge Phu lalu melanjutkan perjalanannya meski dia tidak tahu harus kemana. Berhari-hari dia berjalan tanpa makan dan minum, akhirnya dia pun pingsan kelelahan.

Saat membuka matanya, ternyata dia tidak berada di tanah tempat ia pingsan, namun di sebuah tempat tidur yang besar dan indah. Di hadapannya telah terhidang makanan dan minuman yang lezat. Karena lapar, Jhi Ge Phu menghabiskan hidangan itu dengan lahap.

“Rumah siapa ini,” tanya Jhi Ge Phu dalam hati.

Dia kemudian berkeliling di dalam rumah itu untuk mencari tahu pemiliknya. Anehnya tidak ada seorang pun di dalam rumah itu. Dia menemukan namanya tertempel di salah satu pintu rumah tersebut.
“Mungkin ada orang baik yang meminjamkan rumah ini untukku,” pikirnya. “Aku tidak boleh berdiam diri saja, aku harus bekerja keras!.”

Jhi Ge Phu memutuskan untuk berladang, maka dia segera membabat hutan dan menanaminya dengan sayuran dan buah-buahan.

Dia berangkat ke ladang segera setelah matahari menampakkan diri dan baru pulang saat matahari akan kembali ke peraduannya.

Setiap kali dia bangun tidur dan pulang kerja, Jhi Ge Phu selalu mendapati meja makannya telah dipenuhi hidangan. Demikian pula rumah yang ditinggalinya selalu rapi dan bersih. Padahal Jhi Ge Phu tidak pernah bertemu dengan orang lain di rumah itu.

Karena penasaran, Jhi Ge Phu memutuskan untuk mencari tahu jawabannya. Suatu hari seperti biasa, pagi-pagi dia berpura-pura pergi ke ladang. Padahal dia bersembunyi dan mengintip.

Tiba-tiba anak ayam yang dibawanya dari istana naga mengeluarkan asap dan BUZZ!! Anak ayam itu menghilang dan berdirilah seorang putri yang sangat cantik. Kini tahulah Jhi Ge Phu bahwa selama ini putri Naga selalu bersamanya. Jhi Ge Phu sangat gembira, dia pun menghampiri putri Naga yang tidak bisa berpura-pura lagi. Mereka memutuskan untuk menikah dan bekerja di ladang bersama-sama.

Suatu hari lewatlah seorang raja dan para pengikutnya. Mereka hendak pergi berburu. Raja sangat terpesona melihat keindahan rumah Jhi Ge Phu dan memutuskan untuk singgah. Raja semakin terpesona melihat bahwa Jhi Ge Phu memiliki istri yang sangat cantik. Timbul niat jahatnya untuk menjadikan putri Naga sebagai istrinya.

Maka ditantangnya Jhi Ge Phu untuk bertanding. Raja memutuskan untuk bertanding membabat hutan selama tiga hari. Jika Jhi Ge Phu berhasil, raja akan memberinya hadiah, namu jika gagal, maka Jhi Ge Phu harus menyerahkan istrinya kepada raja.

Jhi Ge Phu sangat sedih karena yakin tidak akan mampu memenuhi tantangan tersebut. Namun putri naga menyarankan untuk meminta tolong pada raja naga.
“Pintalah kapak rembulan pada ayahku!” katanya.

Dengan kapak rembulan di tangannya, Jhi Ge Phu dengan berani berdiri menentang raja. Dia memilih hutan di sebelah timur, sementara raja hutan di sebelah barat. Dengan sekuat tenaga Jhi Ge Phu melemparkan kapak rembulannya ke atas dan BLARR! Seberkas cahaya memancar dan dengan sekejap mata hutan di sebelah timur telah habis terbabat.

Raja sangat marah dan tidak mau mengakui kekalahannya. Dia menantang Jhi Ge Phu untuk menuai padi keesokan harinya. Sekali lagi Jhi Ge Phu meminta pertolongan raja naga yang lalu memberinya sebuah kotak emas berkepala merak.

Esoknya, puluhan pekerja raja bekerja keras menuai padi di ladang sebelah selatan. Jhi Ge Phu segera membuka kotak emasnya. Seberkas cahaya menyilaukan terpancar dari dalamnya dan lalu segera berubah menjadi jutaan ekor burung pemakan padi. Mereka mematuki padi di ladang sebelah utara sehingga dalam sekejap padi-padi itu habis. Raja sangat marah dengan kekalahannya. Dengan geram dia memerintahkan para prajuritnya untuk membawa putri naga dengan paksa.

Jhi Ge Phu berusaha melawan namun saying prajurit raja terlalu banyak sehingga ia kewalahan. Didengarnya putri naga berteriak-teriak ketika para prajurit membawanya.
“Ge Phu, Mantel Bulu Merak! Syair keberuntungan!” teriak putri.

Jhi Ge Phu dengan sedih melihat istri yang dicintainya dibawa pergi. Berhari-hari dia memikirkan arti ucapan istrinya. Tiba-tiba pikirannya terbuka dan dia mengerti bahwa dia harus membuat mantel dari bulu merak dan membawanya ke istana.

Dia segera mengumpulkan bulu merak. Setiap malam di bawah cahaya rembulan dia menyusun bulu-bulu merak dan merangkai syair keberuntungan. Lalu pada malam ke 49 selesailah sudah mantel bulu merak dan syairnya.

Dengan memakai mantel bulu merak tersebut, Jhi Ge Phu berangkat ke istana. Malam itu adalah malam tahun baru Lunar. Masyarakat kota sedang berpesta. Istana dihiasi lentera dan lampion. Kemeriahan pesta begitu terasa saat Jhi Ge Phu berdiri di pintu gerbang istana. Dia lalu menyanyikan syair keberuntungannya dengan lantang. Pakaiannya yang tidak biasa, menarik perhatian banyak orang. Mereka beramai-ramai menonton Jhi Ge Phu.

Raja yang tidak tahu bahwa orang tersebut adalah Jhi Ge Phu segera memerintahkan untuk membawanya ke dalam istana. Putri Naga segera tahu bahwa suaminya telah datang begitu mendengarnya menyanyikan syair keberuntungan. Dia bergegas masuk ke aula tempat Jhi Ge Phu berada dan dengan ceria menebarkan senyum padanya.

Raja gembira melihat putri berubah ceria. Pikirnya jika ia juga memakai mantel bulu merak, putri akan senang padanya. Tanpa pikir panjang raja merebut mantel itu dan memakainya.

Tapi putri naga menunjukan tampang tidak suka, katanya “sungguh tidak pantas seorang raja berpakaian seperti itu. Sangat tidak sopan. Ini akan membuat sial pada kerajaan. Raja seperti ini harusnya dikurung saja.”

Kata-kata sang putri menimbulkan keributan di istana. Beberapa prajurit dan pejabat berusaha menangkap raja dan sebagian lain melindunginya. Kesempatan ini dipakai oleh Jhi Ge Phu dan putri naga untuk melarikan diri. Mereka berlari kea rah laut. Di sana para prajurit istana naga telah menunggunya dan membawanya kembali ke istana naga. Di sanalah mereka hidup bahagia selamanya.

(SELESAI)

Lo Sun

Lo Sun seorang anak buta. Ia hidup bersama ayahnya di sebuah gubuk reot. Suatu hari, saat Lo Sun berusia lima tahun, ayahnya mengusirnya. Sebab sang ayah sudah tak sanggup membiayai hidup Lo Sun. "Kau pergi saja mengemis. Nanti akan banyak orang memberimu sedekah. Mereka pasti kasihan padamu karena kau buta."

Lo Sun meninggalkan rumah tanpa bekal apapun. Ia ditemani Fan, anjingnya yang setia. Mereka pergi ke kota. Mereka mencari nafkah dengan meminta-minta. Lo Sun berjalan memakai tongkat. Di jalanan yang terjal dan berbatu-batu, Fan menjadi penunjuk jalan.

Fan adalah anjing yang pandai. Sesekali ia membantu majikannya mencari uang. Apabila Lo Sun menepuk tangan tiga kali, Fan berlutut dan menjatuhkan kepalanya ke tanah. Orang-orang di jalan menyukai tontonan ini, sehingga mereka memberi Lo Sun uang receh.

Lima tahun telah berlalu. Sejak matahari terbit sampai tenggelam ke peraduan, Lo Sun menyusuri jalan-jalan kota, mencari sesuap nasi. Pada malam hari mereka tidur di sembarang tempat. Kadang di depan pintu rumah orang, kadang di lapangan terbuka.

Suatu malam, Fan menuntun majikannya ke sebatang pohon berdaun lebat di tepi jalan. Lo Sun menyantap makanan malam, berupa sekerat kecil roti. Roti itu dimakannya berdua dengan Fan. Mereka lalu tidur.

Dalam tidurnya Lo Sun bermimpi. Seorang peri cantik datang dan berbicara lembut padanya, "Lo Sun, apa kau dapat melihatku?"
Lo Sun menjawab sedih, "Tidak, aku buta."
"Kasihan," sahut sang peri, "Tapi jangan sedih. Barangkali aku bisa menolongmu."
"Apa kau bisa memulihkan mataku?" tanya Lo Sun penuh harap.
"Maksudku, kau bisa menolong dirimu sendiri. Aku hanya membantu. Kalau kau berbuat baik, maka secercah cahaya kecil akan memasuki rongga matamu. Semakin banyak kau beramal kebaikan, semakin bertambah baik penglihatanmu." Si peri lalu menambahkan, "Tapi ingat, apabila perbuatanmu kurang baik, sinar itu akan meredup, dan kau akan kembali buta."

Suara itu menjadi sayup-sayup, dan Lo Sun terbangun. Matahari hangat menerpa wajahnya. Bocah pengemis itu menjadi penuh semangat. Begitu juga Fan yang menyalak-nyalak gembira.
"Fan, bantulah aku agar bisa melihat lagi," cetus Lo Sun. "Tanpa kau, aku tak bisa berbuat banyak."

Mereka berjalan bersama menyelusuri jalan-jalan di kota. Tanpa disadari, mereka melintas di depan seorang pengemis tua yang duduk di tepi jalan. Pengemis itu berkata, "Kasihani aku! Beri pengemis buta uang satu kepeng!"

Lo Sun menjawab, "Tapi aku juga buta, Kek. Aku juga pengemis, seperti Kakek."
"Tapi kau lebih beruntung, anak muda," sahut lelaki tua, "Karena kau masih bisa berjalan. Tapi aku…, aku buta dan lumpuh."
"Oh, ya," pekik Lo Sun. Ia segera memberi si Kakek sekeping uang receh. Itu satu-satunya uang yang dimilikinya.

Pengemis tua mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba Lo Sun merasakan secercah cahaya melintas di depan matanya. Dikerjapkan matanya, dan ketika dibuka dunia nampak sedikit terang. Ia sudah tidak buta total. "Fan, mimpiku menjadi kenyataan!" pekiknya. "Kata Peri, kalau aku berbuat amal dan kebajikan, buta mataku jadi berkurang!"

Malam harinya Lo Sun tidur di Kuil Pengemis. Yaitu bangunan berupa puing-puing kuno, letaknya di luar kota. Kuil Pengemis adalah tempat singgah para pengemis. Di pojok kuil ada seorang nenek pengemis. Tubuhnya kurus kering. Ia sakit karena kurang makan. Lo Sun hanya memiliki sepotong kecil roti kering untuk makan malam. Tapi diberikannya roti itu kepada nenek itu. Nenek itu mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba ada secercah cahaya lain melintas di depan mata Lo Sun. Dikerjapkan matanya. Sekarang ia bisa melihat malam itu ada bulan purnama.

Malam itu Lo Sun tidur dengan perut kosong. Tapi ia tidak peduli. Rasa bahagia karena matanya mulai pulih membuat ia lupa bahwa ia lapar.

Esok harinya, Lo Sun dan Fan kelaparan. Mereka tidak punya roti lagi. Lo Sun dan Fan kembali ke kota untuk mengemis. Mereka telusuri jalanan berdebu. Tiba-tiba mereka melihat seekor ayam tersesat di jalan. Fan mengejarnya, lalu menangkapnya, dan memberikannya kepada Lo Sun.

Lo Sun merasa amat lega. Ayam itu dijualnya di pasar. Tapi ketika Lo Sun menerima beberapa keping uang dari si pembeli, tiba-tiba seberkas awan gelap melintas di depan mata Lo Sun. Pemandangan di depannya pun menjadi gelap.

Lo Sun teringat kata-kata peri dalam mimpi. "Pasti ini hukuman karena aku berbuat jahat," batinnya. "Ayam itu bukan milikku. Aku telah mencurinya."

Meskipun merasa amat lapar, Lo Sun tidak mau berbuat dosa. Ia harus mengembalikan ayam itu kepada pemiliknya. Tapi karena pembelinya sudah pergi, Lo Sun kembali ke desa, mencari pemilik ayam, dan menyerahkan semua uang hasil penjualan ayam kepadanya. Maka seberkas cahaya kembali melintas di depan matanya. Bumi nampaknya lebih cerah daripada semula. Lo Sun kembali tersenyum senang.

Sebulan kemudian, Lo Sun sudah bisa membedakan benda-benda yang dilihatnya. Sekarang Fan tak perlu lagi menuntunnya.

Suatu hari, ia dan Fan sedang duduk di pinggir sungai. Semalam turun hujan lebat. Langit diselimuti mendung tebal. Air sungai meluap, arusnya deras sekali. Tiba-tiba terdengar jeritan seorang lelaki, "Tolong! Aku tenggelam!"

Lelaki itu pasti tercebur ke sungai, dan kini terseret arus deras! Batin Lo Sun. Lo Sun tidak tahu haru berbuat apa. Ia masih kecil dan matanya setengah buta. Bagaimana ia bisa menolong orang tenggelam? Tapi Lo Sun ingat, Fan bisa berenang dan pandai. Ia pasti bisa menolong orang itu. "Tapi bagaimana kalau Fan tenggelam?" gumam Lo Sun ragu. "Aku tak akan punya teman lagi."

Teriakan laki-laki tadi terdengar lagi. Kali ini Lo Sun tidak ragu-ragu. "Lari, Fan! Selamatkan lelaki yang tenggelam itu!"
Lo Sun berdoa agar si pria dan Fan selamat.

Akhirnya terdengar suara si lelaki naik ke tepian dan merebahkan tubuh dari tepi sungai. Lo Sun menghampirinya, dan bertanya, "Apakah anda baik-baik saja? Di mana anjingku?"

Lelaki itu duduk nyaris tak bisa bicara. Tapi ia kemudian berkata pelan, "Menyesal sekali, anjingmu terseret arus. Aku telah berusaha menariknya. Tapi kami berdua sama-sama lemah…"

Lo Sun menangis meraung-raung di rerumputan. "Fan! Apa yang bisa kulakukan tanpa kau di sampingku? Kau satu-satunya sahabatku!" Lo Sun terisak, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Lelaki itu duduk dan melingkarkan lengannya ke bahu Lo Sun yang malang. "Jangan menangis!" katanya menghibur. "Pulanglah, ceritakan pada ayahmu. Aku yakin dia akan membelikanmu anjing lain."
"Tapi aku tak punya rumah," jawab Lo Sun. "Aku buta, dan ayah mengusirku lima tahun lalu. Fan satu-satunya sahabatku."

Tangisan lelaki itu pun meledak. "Angkatlah mukamu, Nak," katanya. Lo Sun menengadah dan memandangi lelaki itu. Ya, ia dapat melihat wajah lelaki itu! Matanya telah pulih. Perbuatan baiknya yang terakhir telah menyembuhkan kebutaannya. Lelaki itu bicara dengan suara pelan, "Apakah namamu Lo Sun?"
"Ya, benar," jawab Lo Sun. "Tapi darimana Anda tahu?"
"Lo Sun, anakku, maafkan aku!" ujar lelaki itu. "Aku ayahmu. Aku telah berlaku kejam dengan mengusirmu. Ayo pulang bersamaku, aku berjanji tak akan berbuat kejam padamu. Aku akan membelikan kau seekor anjing lain…."

Sesaat Lo Sun marah. Lelaki di depannya ternyata ayahnya yang telah membuat hidupnya sengsara! Tapi Lo Sun kemudian sadar, bahwa ia harus memaafkan. Jawabnya, "Aku maafkan, Ayah. Aku akan pulang bersama Ayah!"

Ayahnya memekik kegirangan. Saat mereka berjalan berangkulan pulang, Lo Sun bercerita tentang peri baik hati yang datang ke mimpinya.

Lo Sun kini mempunyai anjing lain bernama Min. Namun bagaimana pun akrabnya ia dengan Min, kenang-kenangan manisnya bersama Fan tak pernah bisa dilupakannya.

(SELESAI)

Meng Jiangnu

Pada suatu masa, keluarga Meng dan keluarga Jing hidup rukun berdampimgan, di wilayah Badaling. Walaupun hidup sederhana, mereka merasa berbahagia. Sayang sekali, kedua keluarga ini tidak dikaruniai anak.

Saat musim semi tiba, keluarga Meng menanam biji labu di halaman depan rumahnya. Labu itu tumbuh dengan subur, hingga melewati tembok pemisah rumah, dan memasuki pekarangan rumah keluarga Jiang.

Keluarga Jiang sangat mengagumi buah labu yang besar dan ranum itu. Maka keluarga Meng memutuskan untuk membagi dua labu tersebut.

Sungguh ajaib, ketika labu tersebut dibelah, ternyata di dalamnya ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih tanpa cela, pipinya ranum seperti apel, dan rambutnya hitam bercahaya. Cantik sekali!

Kedua keluarga itu sangat gembira mendapat keajaiban tersebut. Mereka berjanji akan merawat bayi tersebut bersama-sama. Maka bayi tersebut diberi nama Meng Jiangnu.
Meng Jiangnu tumbuh besar dengan curahan kasih sayang dari kedua keluarga tersebut. Tidak heran jika Meng Jiangnu kemudian menjadi gadis yang sangat cantik dan cerdas.

Sementara itu, kaisar yang berkuasa saat itu, kaisar Qin Shihuang, sedang membangun tembok cina . Tembok yang juga berfungsi sebagai benteng itu terbentang dari propinsi Gansu sampai Pantai Pasifik. Banyak warga yang dipaksa berkerja rodi untuk pembangunannya. Mereka dipaksa bekerja siang dan malam, tanpa diberi makan dan seringkali dicambuki oleh para penjaga yang kejam. Maka banyak penduduk yang mati kelaparan dan kecapaian.

Salah seorang pekerja itu bernama Fan Xiliang. Dia seorang pemuda yang gagah dan tampan. Suatu malam Fan Xiliang melarikan diri karena sudah tak tahan lagi bekerja rodi. Dia berlari sekuat tenaga. Hingga tibalah dia di pekarangan sebuah rumah. Fan Xiliang lalu bersembunyi di balik rimbunan bunga.

Pagi itu Meng Jiangnu hendak menyiram bunga di pekarangan. Fan Xiliang terpana melihat kecantikan Meng Jiangnu. Tak sengaja kakinya menginjak sebatang ranting kering hingga menimbulkan bunyi yang keras dan mengagetkan Meng Jiangnu. Melihat ada lelaki yang tidak dikenalnya, refleks Meng Jiangnu berteriak meminta tolong. Fan Xiliang yang ketakutan memohon agar Meng Jiangnu menghentikan teriakannya. Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi. Meng Jiangnu merasa kasihan mendengarnya. Maka dia membawanya menghadap orang tuanya. Kedua keluarga itu juga merasa kasihan atas nasib Fan Xiliang sehingga mengijinkannya untuk sementara tinggal hingga keadaan aman.

Meng Jiangnu dan Fan Xiliang kemudian menjadi akrab. Hingga mereka saling jatuh cinta. Kedua keluarga Meng Jiangnu sangat senang melihat kedua sejoli itu saling menyukai. Keempatnya setuju untuk menikahkan anak kesayangan mereka dengan Fan Xiliang. Dan ternyata keputusan ini juga disambut gembira oleh Meng Jiangnu dan Fan Xiliang. Akhirnya, pasangan ini pun menikah dan hidup bahagia.

Di rumah keluarga Meng ada seorang pembantu bernama Liu Qi yang diam-diam menyukai Meng Jiangnu. Tidak heran jika dia membenci Fan Xiliang dan bermaksud memisahkannya dengan Meng Jiangnu. Diam-diam dia melaporkan keberadaan Fan Xiliang kepada penjaga tembok Cina. Segera saja serombongan penjaga menangkap Fan Xiliang dan memaksanya kemabli ke tempat pembagunan tembok Cina.

Betapa sedihnya Meng Jiangnu melihat suaminya ditangkap dan dibawa pergi. Dia menangis dan memohon kepada penjaga tersebut untuk melepaskan suaminya, namun penjaga itu malah membentaknya. Akhirnya Meng Jiangnu hanya bisa meratap.

Setelah beberapa minggu Meng Jiangnu sudah tidak bisa membendung kerinduannya pada suami yang dicintainya. Maka dia memutuskan untuk pergi mencari suaminya. Orang tuanya tidak bisa mencegah keinginan putrinya. Dengan terpaksa mereka mengijinkan Meng Jiangnu pergi dengan ditemani Liu Qi.

Di tengah perjalanan Liu Qi berusaha membujuk dan merayu Meng Jiangnu untuk mau menikah dengannya dan melupakan suaminya. Tahulah Meng Jiangnu bahwa Liu Qi lah yang telah melaporkan suaminya kepada para penjaga. Meng Jiangnu sangat marah kepada Liu Qi namun dia berpura-pura setuju untuk menikah dengannya.
"Baiklah aku akan menikah denganmu. Tapi aku punya satu syarat. Aku ingin kau memetik bunga liar itu sebagai tanda cintamu padaku," kata Meng Jiangnu sambil menunjuk sekuntum bunga di pinggir jurang.
Liu Qi senang sekali mendengarnya. Dengan segera dia pergi ke pinggir jurang dan berusaha meraih bunga tersebut. Sayang sekali bunga tersebut tumbuh di tempat yang sulit dijangkau. Dan karena tidak berhati-hati, Liu Qi terpeleset dan jatuh ke dalam jurang. Akhirnya Liu Qi yang culas itu pun mati terhempas di dasar jurang.

Meng Jiangnu kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampailah dia di tembok Cina. Kepada para pekerja dia menanyakan keberadaan suaminya. Namun mereka tidak mengenalnya. Tapi ketika Meng Jiangnu hampir putus asa, ada seorang pekerja yang pernah bertemu Fan Xiliang. Pekerja itu mengabarkan bahwa Fan Xiliang telah dihukum mati dan dia tidak tahu dimana Fan Xiliang dikuburkan.

Meng Jiangnu sedih sekali mendengar kabar tersebut. Dia menangis sepanjang malam berharap Tuhan menunjukan dimana jasad suaminya. Tiba-tiba petir menyambar tembok Cina hingga terbelah. Dan di balik reruntuhan itu tampak mayat-mayat yang sudah jadi tengkorak berserakan.

Meng Jiangnu mengerti bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya. Suaminya pastilah salah satu dari mayat-mayat itu. Namun Meng Jiangnu tidak tahu yang manakah mayat suaminya. Maka ia menggigit telunjuknya hingga berdarah dan meneteskannya ke tanah. Dia berdoa semoga Tuhan mau menunjukan yang mana mayat suaminya.

Ajaib, darah Mng Jiangnu mengalir menuju mayat Fan Xiliang. Dengan persaan sedih Meng Jiangnu mengumpulkan kerangka suami yang dikasihinya. Sayang sebelum Meng Jiangnu berhasil membawanya, serombongan pengawal Kaisar Qin Shihuang memergokinya dan membawanya ke hadapan kaisar. Kaisar sangat tertarik melihat kecantikan Meng Jiangnu dan bermaksud memperisterinya. Meng Jiangnu menolak dengan tegas hingga ia pun dijebloskan ke penjara.

Meng Jiangnu terus memikirkan mayat suaminya yang belum dikuburkan. Tiba-tiba terlintas di pikirannya, sebuah ide. Maka dia memohon pengawal memperbolehkannya menghadap kaisar. Meng Jiangnu berpura-pura bersedia menikah dengan kaisar jika kaisar mau mengabulkan tiga permohonannya.
"Baiklah, katakan!" kata kaisar.
"Pertama saya ingin mengundang 49 biksu untuk membacakan doa bagi mendiang suami saya selama 49 hari," kata Meng Jiangnu.
"Kedua, aku minta mayat suamiku dikuburkan secara layak dan paduka harus mengenakan pakaian berkabung, juga harus berlutut di depannya."
"Dan yang terakhir, sebelum menikah aku ingin padaku menemaniku bertamasya selama tiga hari."
Muka kaisar memerah mendengar permintaan Meng Jiangnu tersebut. Namun karena sudah berjanji maka dengan terpaksa kaisar menyetujuinya.

Setelah acara penguburan selesai, kaisar menemani Meng Jiangnu bertamasya. Di hari terakhir, Meng Jiangnu meminta kaisar menemaninya melihat pemandangan dari atas tembok Cina. Namun ketika mereka telah sampai di atas tembok Cina, tiba-tiba Meng Jiangnu berseru:"Fan Xiliang tunggulah, aku menyusulmu!" dan tanpa sempat dicegah melompat terjun dari atas tembok dan terhempas ke tanah hingga tewas.

Kaisar Qin Shihuang tertegun melihat kejadian itu dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menguburkan mayat Meng Jiangnu bersama suaminya Fan Xiliang.

(SELESAI)

Pangeran Bungsu dan Putri Laut

Di tiongkok ada seorang raja yang memiliki delapan orang pangeran. Raja kini semakin tua dan sudah saatnya untuk menentukan penerusnya. Namun raja belum bisa memutuskan siapakah diantara kedelapan putranya yang berhak, karena semuanya sangat pandai dan terlatih.

Akhirnya dia memutuskan untuk menyuruh putra-putranya berkelana selama tiga tahun untuk mencari ilmu yang istimewa. Dengan dibekali emas dan uang, kedelapan putra raja tersebut berangkat meninggalkan istana. Mereka berpencar dan berdandan layaknya rakyat biasa. Semuanya bertujuan untuk mencari ilmu yang paling pantas bagi raja penerus tahta.

Tiga tahun kemudian, mereka semua kembali ke istana dan tampaknya sangat yakin dengan ilmu yang mereka pelajari. Kini tiba saatnya mereka menceritakan pengalaman dan ilmu apa yang telah mereka dapatkan.

“Aku belajar pada tukang kayu ayah, dan kini aku sangat ahli membuat perabotan yang sangat indah!” kata pangeran satu.
“Ilmuku adalah membuat ratusan jenis makanan lezat ayah!” kata pangeran dua.

Semua pangeran menjelaskan ilmunya satu persatu, hingga tinggalah pangeran delapan.
“Nah apa keahlian yang kau dapatkan Bungsu?” tanya raja.
“Aku pandai menggesek rebab ayah! Aku berguru pada seorang seniman terkenal,” kata pangeran bungsu.
“Apa! Menggesek rebab? Bagaimana bisa kau berpikir bahwa seorang raja pantas menggesek rebab. Kamu sungguh mengecewakan!” bentak raja.

Pangeran bungsu kecewa mendengar kata-kata ayahnya, maka dia memutuskan untuk pergi dari istana dengan membawa rebab kesayangannya.

Sepanjang perjalanan, pangeran bungsu menggesek rebabnya untuk mengusir kesedihannya. Alunan rebabnya sangat indah dan merdu, sehingga semua makhluk yang mendengarnya merasa terlena.

Suatu hari yang indah, pangeran bungsu beristirahat di pinggir pantai. Dia mengalunkan lagu-lagu sendu lewat gesekan rebabnya. Tanpa disadarinya seorang kakek tua telah berdiri di hadapannya. Dengan lembut dia menyapa pangeran.
“Anak muda, lagumu sangat indah dan merdu. Tuan putri telah mendengar lagu anda dan sangat ingin bertemu dengan anda. Beliau ingin anda menjadi gurunya. Bersediakah anda?”
“Dimanakah kerajaan kalian?” tanya pangeran.
“Di dasar laut,” kata kakek tua.
“Bagaimana aku bisa kesana?” kata pangeran keheranan.
“Tenang saja. Pejamkan matamu!” katanya.

WUZZ! Angin dingin menyelimuti pangeran bungsu saat dia memejamkan mata. Dan ketika dia membuka matanya, dia telah berada di sebuah istana yang keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dindingnya dipenuhi kerang dan batu permata berwarna-warni. Pilarnya dari untaian mutiara. Dan lantainya bersinar seperti kaca.

Kedatangannya disambut gembira oleh raja laut dan putrinya. Mereka menjamu dan memintanya untuk tinggal selamanya di istana. Namun pangeran menolak, namun dia berjanji akan tinggal dan mengajari putri laut selama tiga tahun.

Tidak terasa tiga tahun pun berlalu. Putri laut telah mahir memainkan rebabnya. Kini tiba saatnya pangeran bungsu untuk pulang kembali ke daratan.

“Guru, jika besok ayah menawarimu hadiah, mintalah vas bunga emas di atas pungung dewa kura itu,” kata putri laut.
“Kenapa?” tanya pangeran.
“Karena vas itu bisa mengabulkan semua permintaan guru. Cukup bisikan keinginanmu di depannya, maka dalam sekejap keinginanmu akan terwujud!” jelasnya.

Maka saat raja laut memintanya untuk memilih hadiah, pangeran meminta vas bunga tersebut.
“Anak muda, sayang sekali vas ini tidak bisa diberikan kepada orang lain karena ini pusaka keluarga. Tapi karena aku sudah berjanji untuk memenuhi keinginannmu maka aku akan meminjamkannya kepadamu selama tiga tahun. Setelah itu aku akan mengambilnya kembali.” Kata raja laut.

Pangeran bungsu pun diantar kembali ke darat. Kemudian dia memutuskan untuk meminta istana yang mirip dengan istana raja laut beserta hewan ternak yang banyak. Dibisikannya keinginannya di depan vas bunga tersebut. Dalam sekejap di depannya berdiri istana yang sangat megah dan serupa dengan istana raja laut lengkap dengan pekerja dan hewan ternak yang banyak. Sejak itu pangeran bungsu tinggal di istananya.

Para nelayan yang sering melewati istana pangeran bungsu membawa berita kemegahan istana itu ke pasar, lalu menyebar ke kota hingga akhirnya terdengar oleh raja, ayah pangeran. Dia tidak senang ada orang lain yang menyaingi kemegahan istananya. Lalu dengan didampingi para prajuritnya dia mendatangi istana pangeran bungsu.

Alangkah terkejutnya raja, ketika yang menyambutnya di istana megah itu tiada lain adalah putra bungsunya.
“Bagaimana kau bisa membangun istana semegah ini?” tanya raja.
“Oh, aku memperolehnya dari upah menggesek rebab ayah” kata pangeran.

Ayah pangeran adalah raja yang tamak. Dia meminta pangeran bungsu untuk menukar istananya. Ternyata pangeran menyetujuinya.

Sejak itu raja tinggal di istana megah dan pangeran kembali ke istana lamanya. Karena raja tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, maka pangeran bungsu mengambil alih kendali sehingga rakyat kembali hidup makmur. Pangeran sangat disukai rakyat karena dia pemimpin yang adil dan bijaksana, demikian pula para pejabat menilainya sangat cekatan, dan pandai.

Suatu hari, tiga tahun kemudian, raja terbangun dan mendapati dirinya tidur di atas rumpu dan bukannya di kasur empuk yang semalam ditidurinya. Dengan ketakutan, raja berlari menuju istana lamanya dan mengadukan hal tersebut kepada pangeran bungsu.

Pangeran bungsu lalu teringat akan janjinya kepada raja laut, dan tahulah ia bahwa raja laut telah mengambil kemabli pusakanya. Dia tidak memberitahukan hal itu kepada ayahnya, sebaliknya dia menasihati ayahnya untuk memperbaiki sikapnya yang selalu memandang rendah orang lain dan serakah.

Raja bukannya sadar, sebaliknya dia meminta agar pangeran bungsu mengembalikan tahtanya. Namun rakyat dan para pejabat yang tidak senang dengan raja menolak dan menentang raja. Akhirnya raja menyerah. Pangeran bungsu yang baik hati mengijinkan ayahnya dan ketujuh saudaranya untuk tetap tinggal di istana dan hidup bersama.

(SELESAI)